Spesies Anakonda Hijau Baru Ditemukan, Badan Setebal Ban Mobil, Kepalanya Sebesar Kepala Manusia

Para peneliti dari University of Queensland, Australia menemukan anakonda hijau di pedalam hutan Amazon, Ekuador.

Menurut peneliti, anakonda hijau ini merupakan spesies baru ular terbesar di dunia.

Karena ukurannya yang besar, peneliti menyebut, bahwa ular anakonda hijau ini memiliki badan setebal ban mobil.

Bahkan, ukuran kepalanya nyaris sebesar kepala manusia.

Freek Vonk, profesor di VU University Amsterdam, Belanda mengatakan, bahwa ular ini berbeda dari spesies lainnya yang pernah ditemukan.

Keberadaannya dapat ditemukan di Amerika Selatan, seperti Venezuela, Suriname, dan Guyana Perancis.

Dikutip dari CNN, Vonk menggambarkan ular anakonda hijau ini “seperti monster” karena memiliki badan setebal ban mobil, dengan panjang 8 meter dan beratnya lebih dari 200 kg, serta kepala sebesar kepala manusia.

Menurut profesor Bryan Fry, hewan ini berusia hampir 10 juta tahun.

Penemuan spesies ular anakonda terbesar itu terjadi saat syuting serial National Geographic berjudul Pole to Pole with Will Smith yang disiarkan Disney+ pada Februari 2024.

Tim peneliti yang dipimpin profesor Bryan Fry menemukan anakonda tersebut dengan bantuan penduduk asli Waorani.

Bryan Fry dan tim dari University of Queensland melakukan penjelajahan di hutan terpencil Amazon untuk syuting serial Pole to Pole with Will Smith berama para kru film.

Dikutip dari rilis resminya, Bryan Fry memimpin tim tersebut untuk menangkap dan mempelajari beberapa spesimen anaconda hijau utara (Eunectes akayima).

Spesies ular tersebut baru diberi nama. Mereka lalu melakukan pejelajahan di wilayah Bameno, Baihuaeri Waorani dalam hutan Amazon, Ekuador.

Mereka ke sana berkat undangan masyarakat setempat Waorani untuk mengumpulkan sampel dari populasi anaconda yang katanya terbesar di dunia.

Selama sepuluh hari ekspedisi, mereka ditemani pemburu setempat masuk ke hutan Amazon untuk mencari spesies ular yang dianggap keramat.

“Kami mendayung kano menyusuri sistem sungai dan cukup beruntung menemukan beberapa anakonda bersembunyi di perairan dangkal, menunggu mangsa,” kata Bryan.

Tak lama kemudian, mereka menemukan seekor anakonda betina dengan ukuran panjang 6,3 meter.

“Ukuran makhluk menakjubkan ini sungguh luar biasa,” ungkap Bryan.

Sementara itu, masyarakat Waorani melaporkan pernah melihat anakonda lain di daerah tersebut yang berukuran panjang lebih dari 7,5 meter dan berat sekitar 500 kilogram.

Tim peneliti lalu mengambil sampel darah dan jaringan dari ular besar tersebut.

Mereka juga mengamati ciri-ciri fisik, menghitung sisik, serta mengamati corak dan warnanya.

Dilansir dari CNN World (23/2/2024), anakonda hijau memang ular terberat di dunia

Museum Sejarah Alam Inggris mencatat, ular anakonda hijau yang pernah tercatat memiliki berat 227 kilogra, panjang 8,43 meter, dan lebar 1,11 meter.

Bila dibandingkan ular lain, sanca batik hanya mempunyai panjang 6,25 meter.

Dilihat dari temuan Bryan Fry dan tim University of Queensland, ular anakonda hijau yang pernah tercatat itu memiliki ukuran lebih panjang.

Namun, hewan tersebut berspesies anakonda hijau selatan.

Spesies anakonda hijau utara yang baru ditemukan sebagai ular terbesar punya genetik yang berbeda dengan anakonda hijau selatan.

Diberitakan The Independent (23/2/2024), spesies baru ini memiliki gen yang sangat berbeda dari anakonda hijau selatan yang diemukan sejak 10 juta tahun lalu.

Secara genetik, perbedaannya sebesar 5,5 persen.

Sebagai gambaran, manusia hanya berbeda gen sekitar 2 persen dari simpanse.

Para peneliti juga membandingkan genetika anakonda hijau dengan spesimen ular yang dikumpulkan di tempat lain.

Menurut mereka, temuan ini sangat penting untuk konservasi anakonda selaku hewan predator puncak rantai makanan yang memengaruhi keseimbangan ekosistem.

Sebagai spesies ular raksasa yang baru ditemukan, para peneliti menyoroti kondisi sekitar hutan Amazon habitat reptil tersebut mengkhawatirkan.

“Deforestasi di lembah Amazon akibat ekspansi pertanian diperkirakan mengakibatkan hilangnya habitat sebesar 20-31 persen, yang mungkin berdampak pada 40 persen hutan Amazon pada tahun 2050,” katanya.

Selain itu, wilayah tersebut terancam polusi logam berat akibat pertambangan, kebakaran hutan, kekeringan, dan perubahan iklim. Kondisi ini mengancam kehidupan anakonda raksasa dan makhluk hidup di sana.

Karena itu, Bryan mengungkapkan, pihaknya akan melakukan penelitian lebih lanjut terhadap spesies dan ekosistem di hutan Amazon.

“Yang paling mendesak adalah penelitian tentang bagaimana petrokimia dari tumpahan minyak mempengaruhi kesuburan dan biologi reproduksi ular langka ini dan spesies penting lainnya di Amazon,” imbuh dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*